Banjir Air Mata, Ibunda Ungkap Derita dr Aulia Risma Lestari Saat Ikut Program PPDS Undip

0
23
Nuzmatun Malina didampingi kuasa hukum saat wawancara di sebuah televisi swasta. (Tangkapan layar Youtube)
Nuzmatun Malina didampingi kuasa hukum saat wawancara di sebuah televisi swasta. (Tangkapan layar Youtube)

JAKARTA, JRnews.co.id – Nuzmatun Malina tak kuasa menahan air mata saat menceritakan curhat anaknya, dr Aulia Risma Lestari, semasa hidup.

Nuzmatun Malinah adalah ibu dari dr. Aulia Risma, mahasiswi PPDS yang bunuh diri akibat perundungan di RSUP Dr. Kariadi, Semarang,

Nuzmatun berharap pelaku perundungan dan pemerasan terhadap sang anak mendapat hukuman setimpal.

Nuzmatun merasakan sedih luar biasa, karena ia juga ditinggal sang suami beberapa bulan setelah putri mereka bunuh diri.

Suami Nuzmatun sempat 2 minggu dirawat di rumah sakit, karena kesehatan yang terus menurun setelah mengetahui Aulia meninggal dunia.

“Saya harap dapat hukuman yang setimpal. Tolong, saya cari keadilan. Bantu lah saya, anak saya harusnya sekolah, cari ilmu. Tapi apa yang didapatkan. Seharusnya anak saya itu ada. Sekolah cari ilmu, tapi apa yang terjadi. Tidak hanya anak saya, suami saya juga. Tolong bantu saya. Tolong bantu saya cari keadilan. Tidak hanya satu nyawa, tapi suami saya yang mendampingi saya. Tolong bantu saya cari keadilan. Ya allah,” tangis Nuzmatun di depan awak media, Rabu (18/9).

Nuzmatun mengatakan, iuran yang harus dibayarkan sang anak sangat besar saat masih duduk di semester pertama. Uang berasal dari dirinya selaku ibunda dokter Aulia.

Nuzmatun menyebut, uang iuran itu digunakan untuk kebutuhan angkatan dan kebutuhan senior dr Aulia saat menjalani pendidikan dokter spesialis.

Kuasa hukum keluarga almarhumah dokter Aulia, Misyal Achmad, mengungkapkan bahwa total iuran yang disetor almarhumah selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut mencapai Rp225 juta.

Ibu almarhumah, Nuzmatun Malina, mengonfirmasi bahwa dia secara rutin mentransfer uang kepada puterinya untuk membayar iuran mahasiswa PPDS.

Nuzmatun menjelaskan bahwa transfer uang untuk iuran tersebut dimulai sejak semester pertama, dengan jumlah yang bervariasi setiap bulannya.

Ia menambahkan bahwa almarhumah masih membayar iuran hingga menjelang kepergiannya, yang juga digunakan untuk kebutuhan mahasiswa angkatannya. (JRnews.co.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini