Oleh: Subhan Syarief
JRnews.co.id – Ricky Elson, nama yang barangkali tak begitu dikenal di kalangan masyarakat luas, justru bersinar di negeri matahari terbit.
Di Jepang, ia dikenal sebagai ahli motor penggerak listrik yang karyanya begitu dihargai.
Sebanyak 14 paten terkait teknologi motor listrik ia kantongi, sebuah pencapaian yang menandakan keunggulan ilmunya dalam dunia otomotif berbasis energi ramah lingkungan.

Kiprahnya di Jepang tak hanya membawanya pada prestasi akademik dengan gelar doktor di bidang teknologi motor listrik, tetapi juga membuatnya dipercaya sebagai dosen tamu di beberapa universitas terkemuka di sana.
Keahliannya dibutuhkan, pengetahuannya diakui, dan karyanya diapresiasi. Ricky Elson bersinar terang di langit negeri orang.
Namun, rasa cintanya kepada tanah air membawanya kembali pulang. Pada tahun 2013, ia bersama timnya menciptakan dua mobil listrik bernama Selo dan Gendhis.
Mobil-mobil ini dirancang dengan teknologi canggih dan ramah lingkungan, sebuah bukti bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung otomotif dunia.
Momentum besar pun datang ketika kedua mobil tersebut dipamerkan dalam ajang KTT APEC 2013 di Bali.
Di hadapan para pemimpin dunia, mobil listrik karya anak bangsa tampil gagah, menandakan harapan baru bagi Indonesia dalam memasuki era kendaraan berbasis energi bersih.
Sayangnya, harapan itu hanya bersinar sesaat. Alih-alih mendapatkan dukungan penuh untuk dikembangkan lebih lanjut, mobil listrik Ricky justru terbentur dinding regulasi yang tak ramah terhadap inovasi lokal.
Mobil-mobil tersebut dianggap belum memenuhi standar uji tipe yang berlaku di Indonesia, sebuah aturan teknis yang menentukan apakah kendaraan layak beredar di pasaran.
Di balik regulasi tersebut, ada kenyataan lain yang lebih pahit. Industri otomotif di Indonesia saat itu didominasi oleh pabrikan mobil konvensional yang telah mapan.
Dengan jaringan kuat dan pengaruh besar, mereka lebih mudah mengarahkan kebijakan yang menguntungkan produknya. Inovasi mobil listrik buatan lokal, yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa, justru tersisih di negerinya sendiri.
Tak berselang lama, pasar otomotif Indonesia mulai dibanjiri oleh mobil listrik buatan Tiongkok. Dengan modal besar, kesiapan produksi yang matang, dan harga yang lebih kompetitif, mobil-mobil listrik asing dengan cepat menguasai pasar. Mobil listrik buatan Ricky Elson yang sempat menjadi kebanggaan di KTT APEC pun perlahan menghilang dari sorotan.
Ricky Elson tak menyerah, tetapi tentu hatinya luka. Merasa perjuangannya tak mendapat ruang di tanah air, ia memilih mundur dari hiruk-pikuk industri otomotif dan menetap di sebuah desa bernama Ciheras di Jawa Barat. Di sana, ia beralih menjadi peternak.
Namun, bukan berarti ia meninggalkan sepenuhnya dunia inovasi. Di Ciheras, Ricky berfokus pada pengembangan energi terbarukan, membimbing generasi muda agar mampu memahami dan mengembangkan teknologi berbasis kemandirian energi.
Kisah Ricky Elson adalah cermin ironi yang kerap terjadi di Indonesia. Ia bersinar di langit negeri orang, namun justru redup di tanah kelahirannya sendiri. Potensi besar yang dimilikinya seakan tak cukup untuk menembus dinding kebijakan dan kepentingan industri yang terlalu kuat.
Apa yang terjadi pada Ricky Elson mengingatkan pada pandangan Bung Karno tentang pentingnya mengapresiasi pemikiran dan potensi anak bangsa.
Dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi”, Bung Karno menegaskan bahwa kemajuan bangsa hanya bisa dicapai jika rakyatnya diberi kesempatan untuk berinovasi dan berkarya tanpa belenggu birokrasi yang menghambat.
Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri (berdikari), bukan yang sekadar menjadi konsumen bagi produk asing.
Pemikiran ini juga selaras dengan gagasan Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan dan inovasi harus diarahkan untuk membangun karakter serta kemandirian bangsa.
Dalam salah satu bukunya Ki Hajar Dewantara menulis bahwa “kemajuan suatu bangsa bergantung pada keberanian dan kepercayaan diri rakyatnya untuk menciptakan karya-karya unggul yang tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi mampu bersaing secara global.”
Lebih lanjut, pandangan Mohammad Hatta dalam bukunya “Menuju Negara Yang Merdeka dan Berdaulat” menyoroti bahwa kemajuan industri lokal sangat bergantung pada keberpihakan pemerintah dalam melindungi dan mendukung inovasi anak bangsa.
Menurut Hatta, tanpa kebijakan yang jelas untuk melindungi hasil karya lokal, maka bangsa akan terus bergantung pada produk asing, sekalipun inovasi lokal sejatinya lebih unggul.
Pengabaian terhadap karya Ricky Elson seakan membuktikan kekhawatiran para pendiri bangsa tersebut. Inovasi yang seharusnya menjadi kebanggaan justru dipinggirkan oleh aturan yang kaku dan dominasi kekuatan pasar global.
Jika Indonesia ingin maju sebagai bangsa yang mandiri, maka perlu ada keberpihakan nyata terhadap inovasi lokal.
Kisah Ricky Elson seharusnya menjadi pengingat bahwa talenta anak bangsa harus dirangkul, dihargai, dan didukung secara konkret agar tidak lagi bersinar di langit negeri orang, tetapi juga menyinari tanah kelahirannya sendiri. (JRnews.co.id)
(Subhan Syarief/AI:2025/Batang Banyu Institute).
