Mengapa Keberkahan yang Dijanjikan Allah Tak Kunjung Tiba di Negeri Berpenduduk Mayoritas Muslim Ini?

0
24
Ilustrasi tulisan Subhan Syarief
Ilustrasi tulisan Subhan Syarief

Oleh: Subhan Syarief

Subhan Syarief
Subhan Syarief, Pemerhati Masalah Perkotaan, Mantan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Provinsi (LPJKP) Kalimantan Selatan

JRnews.co.id – Sejujurnya, ketika kita menyelami ayat-ayat suci Al-Qur’an, sering kali kita dihadapkan pada pesan-pesan yang tak hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga menggugah kesadaran sosial.

Banyak di antaranya yang terasa seperti cerminan langsung dari realitas umat Islam di Indonesia hari ini; khususnya saat kita melihat betapa dalamnya jurang antara nilai-nilai keimanan dan kondisi sosial yang kerap penuh kontradiksi. Salah satu ayat yang patut direnungkan dalam konteks ini adalah QS Al-A’raf ayat 96.

Allah berfirman: “Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Ayat ini seolah menjadi tamparan bagi kita semua. Betapa janji keberkahan itu sangat nyata, namun tertahan oleh perilaku umat yang lebih gemar mengabaikan nilai-nilai ketakwaan, bahkan seringkali menutup mata terhadap kezaliman yang nyata di hadapan mereka sendiri.

Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar beriman dan bertakwa seperti yang disyaratkan dalam ayat ini? Atau jangan-jangan, kita justru bagian dari mereka yang mendustakan, secara sadar maupun tidak?

Indonesia adalah negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, suara adzan bersahut-sahutan hampir tak pernah terputus.

Masjid berdiri megah dan kecil di setiap tikungan, surau dan mushola menyebar luas hingga ke perkampungan dan pedalaman.

Ribuan pesantren dan rumah tahfiz berdiri dan terus bertumbuh. Santri dan santriwati menimba ilmu agama, jutaan anak-anak menghafal ayat demi ayat Al-Qur’an.

Para ulama, ustadz, guru ngaji dan dai tampil di berbagai media, panggung dakwah pun semakin luas.

Organisasi keagamaan besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bahkan disebut sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, baik dari segi jumlah pengikut, kontribusi pendidikan, maupun sosial keagamaannya.

Namun satu pertanyaan besar menggantung di langit-langit nurani:
mengapa negeri ini belum juga mendapatkan keberkahan seperti yang dijanjikan Allah?

Kita menyebut diri sebagai bangsa beriman. Kita nyaris tak pernah sepi dari ritual. Kita punya banyak lembaga pendidikan agama. Tapi mengapa angka kemiskinan tetap tinggi? Mengapa kebodohan sulit dibasmi? Mengapa korupsi tak kunjung habis? Mengapa keadilan terasa mahal? Narkoba merajalela. Kemaksiatan dipertontonkan. Riba dijadikan sistem. Bahkan seringkali, kebenaran dilecehkan, sementara kebatilan dimuliakan.

Apakah ini berarti kita belum betul-betul beriman? Apakah takwa kita hanya sebatas simbol?

QS. Al-A’raf: 96 tidak berhenti pada kata “beriman”, tetapi juga menyebut “bertakwa”.

Iman bisa diucap, bisa dipertontonkan, tetapi takwa adalah perkara batin, ia menjelma dalam prilaku.Takwa bukan hanya tentang ritual, tetapi soal kejujuran dalam berdagang, soal keadilan dalam memimpin, soal keberanian dalam berkata benar, soal kepedulian pada sesama, soal menjauhi riba dan menolak korupsi, soal menjaga hati dari kesombongan dan lisan dari kebohongan.

Terkadang, kita terlalu sibuk membangun simbol-simbol agama, tetapi lupa membangun nilai-nilainya dalam kehidupan. Kita bangga dengan jumlah mesjid, tetapi tak peduli jika mesjid itu kosong dari akhlak mulia. Kita bangga dengan banyaknya penghafal Qur’an, tetapi tak tersentuh oleh pesan-pesan Qur’an dalam perilaku harian.

Ya, mungkin inilah sebab keberkahan tak kunjung turun; bukan karena Allah ingkar janji, tapi karena kita sendiri belum benar-benar hidup dalam janji-Nya. Kita terlalu nyaman menyebut nama-Nya, tapi enggan menjalankan nilai-nilai-Nya.

Kita menjadikan agama sebagai identitas, bukan sebagai jalan hidup yang penuh tanggung jawab dan kesungguhan.

Maka tak heran jika keberkahan itu belum turun. Karena keberkahan bukan datang dari jumlah, tapi dari kualitas keimanan dan ketakwaan.

Keberkahan bukan dari seberapa banyak kita bicara tentang agama, tapi dari seberapa jujur, adil, bersih, dan amanah kita dalam hidup sehari-hari.
Sejatinya, ini saat kita bertanya pada diri sendiri, bukan hanya melihat data statistik atau simbol:
Apakah kita sungguh beriman?
Apakah kita sungguh bertakwa?

Mungkin jawaban atas pertanyaan itu yang menentukan apakah keberkahan dari langit dan bumi akan datang; atau tetap tertahan. (Subhan Syarief/AI:2025/Batang Banyu Institute)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini