BANJARMASIN, JRnews.co.id – Jelang pelaksanaan Pilkada serentak yang dijadwalkan akan berlangsung pada 27 November mendatang, menjadikan sebuah kontestasi politik atau pesta demokrasi di masyakatat.
Namun dari semua tahapan yang sudah terjadwal oleh penyelanggara pemilu, mulai dari tahapan sosialisasi atau kampenye hingga hari saat pencoblosan, tidak jarang banyak fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Salah satunya yang sering kita dengar atau terdengar mengenai serangan fajar, atau politik uang untuk memenangkan salah satu kontestan calon peserta pemilu.
Seperti dikutip JRnews.co.id pada edisi ngopi atau ngobrol pinggiran Jejak Rekam TV Podcast, yang di diskusikan pada Minggu (26/5/2024) itu. Membahas tentang ekspedisi perubahan.
Menghadirkan pakar hukum tata negara Prof Hadin Muhad dan Subhan Syarif pendiri Komunitas Batang Banyu, serta jurnalis M.Rasyidi mengupas banyak hal. Diantaranya adalah mengguritanya praktik politik uang mulai dari tingkat bawah hingga atas.
Salah satu potongan dalam diskusi tersebut dibahas bahwa, sulitnya merubah keadaan di masyarakat jelang pelaksanaan pemilu. Hal itu disebabkan karena adanya eksploitasi suara melalau uang, sementara oknum sebagain masyarakat juga justru memanfaatkan momentum tersebut.
Sampai hari kiamat tidak akan dapat berubah
Bahkan Hadin Muhjad berpendapat sampai hari kiamat tidak akan dapat berubah, karena inilah situasi keadaannya.
“Jadi debat tentang ini di ilmu hukum tahun 1970 an sudah muncul, apakah hukum itu muncul dari interaksi masyarakat, atau memang sudah ada norma yang dipasang dari atas ke bawah, perintah dari atas,” katanya.
“Tapi ada aliran bahwa hukum berinteraksi di masyarakat, lalu ada politik dan ekonomi. Karena interaksi dengan politik dan ekonomi dan kekuasaan maka hukum berubah. Maka penjabarannya Alhamdulillah di perundang-undangan kita masih dilarang,” tambahnya.
Menurut pandangan Guru Besar di Universitas Lambuang Mangkurat Banjarmasin ini bahwa, syahwat politik dan ekonomi ini yang berbaya serta kekuasaan, ini yang bisa dinegoisasi.
“Jangan bermimpi kita akan berubah, sampai hari kiamat kita tidak akan berubah,” tegasnya.
Sementara pendiri Komunitas Batang Banyu Subhan Syarif dalam pandangannya mengatakan, ada semacam opini atau pendapat dari kalangan kawan-kawan mereka, bahwasanya jika tidak menggunakan uang maka tidak akan terpilih dalam pemilu.
Bahkan dalam pengamatannya sejak tahun 2010 an sudah mulai terjadi di Kota Banjarmasin dan seterusnya, semakin kuat pengaruhnya politik uang.
Padahal dalam dunia demokrasi suara yang berkuasa adalah suara rakyat, suara masyarakat yang memilih inilah yang menentukan percaturan politik, akan tetapi yang punya suara ini lagi sakit. Nah itulah akhirnya proses politik ini cukup panjang dan sudah menjadi budaya serta menjadi sebuah keharusan.
“Dari pandangan kawan-kawan kami yang pernah mencalon ada semacam opini mereka lah, bahwasanya kami tidak akan menang dan tidak akan bisa meraih kursi, jika tidak melakukan politik uang tadi,” ungkapnya dalam diskusi Jejak Rekam TV podcast.
Sementara Jurnalis Banjarmasin Rasyidi menginginkan adanya kaum tengah, baik dari unsur dan latar belakang apa saja, yang dapat memberika pemahaman dan pendidikan politik bahwa bahaya laten politik uang, dalam tatanan bernegara saat memilih calon pemimpinnya.
Semua pembahasan yang tersaji dengan topik ekspedisi perubahan ini, dapat disaksikan di kanal Yotube Jejak Rekam Podcast.
(JRnews)
