Pertempuran Benteng Peniti Biru Oktober 1860

0
43

Oleh: Andin Alfianoor Ansyarullah Naim

JRnews.co.id – Pertempuran Benteng Peniti biru yang terjadi pada bulan Oktober 1860 menjadi satu episode yang terlupakan dari Perang Hulu sungai 1859-1905.

Pertempuran ini mempertemukan dua tokoh penting yang saling berlawanan yaitu Kiai Karta Negara seorang Pemimpin perlawanan terhadap Belanda dan Kapten Karel van der Heyden pemimpin militer tertinggi Belanda di Hulu Sungai.

Lokasi puncak Peniti Biru sendiri diinformasikan berada diatas kampung hapulang yang hari ini masuk administrasi Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Kiai Karta Negara bernama asli Gapur, salah satu Panglima perang yang mendukung Pangeran Hidayat, dikalahkan dalam pertempuran Benteng Peniti Biru, beliau berhasil melarikan diri dalam keadaan terluka.

Perjuangan Kiai Karta Negara berakhir tiga tahun kemudian tepatnya di bulan oktober 1863 setelah tewas dalam penyergapan pasukan yang dipimpin Panglima Perang yang bernama Djang Rasmi atau Kiai Tumenggung Karta Yuda Negara salah satu pemimpin utama di Alai.

Pertempuran Benteng Peniti Biru juga menjadi catatan penting dalam perjalanan karir dari salah satu tokoh militer terkenal Belanda Letnan Jenderal Karel van der Heyden yang saat itu masih berpangkat kapten, beliau juga merupakan tokoh penting dalam perang penaklukan hulu sungai yang dimulai tahun 1859.

Keberhasilannya dalam penaklukan Hulu sungai merupakan awal dari Karir militer Karel Van der Heyden sangat cemerlang, tahun 1878 beliau diangkat menjadi Gubernur dan Pemimpin militer pertama Belanda Pertama di Aceh dengan pangkat Mayor Jenderal dan memperoleh pangkat Letnan Jenderal pada tahun 1880.

Kontroversi juga membayangi Jenderal yang punya julukan jenderal bermata satu ini karena taktik kekerasan yang dilakukannya selama memimpin Aceh. Beliau meninggal di Belanda tahun 1900.

Kisah Perang Benteng Peniti biru ini disadur disadur dari tiga buku, yaitu buku karangan W. A. VAN REES berjudul Novellen, levensschetsen en krijgstafereelen terbit tahun 1881, berdasar pengalaman langsung kapten Karel van der Heyden.

Buku berikutnya adalah De militaire loopbaan van den Luitenant-Generaal Karel van der Heyden karangan L. F. A. WINCKEL terbit tahun 1896 yang menceritakan dengan kutipan yang sama dengan buku sebelumnya, dan buku ketiga Verhalen Uit de Indische Krijgsgeschiedenis (Java, Boni, Bandjermasin) karangan J.P. SCHOEMAKER terbit tahun 1912, yang memberikan ilustrasi cerita yang lebih dramatis.

Sebagai salah satu sumber primer mengenai perang Hulu Sungai, ada beberapa hal detail yang bisa kita cermati, Penulis mencoba memberikan beberapa pengantar mengenai hal detail yang mungkin menarik.

Terlihat bahwa ternyata baca tulis telah dikenal secara baik di Hulu Sungai, surat menyurat yang dilakukan oleh Kiai Karta Negara dengan menggunakan tanda cap stempel menunjukkan beliau bukan dari latar belakang biasa, tentunya tulis menulis tidak bisa dipelajari secara instan, perlu proses dan privilige pada kelas sosial tertentu untuk mendapatkan pendidikan baca tulis tersebut.

Kiai Karta Negara rupanya mempunyai nama Asli Gapur. Jika melihat gelar-gelar yang dimiliki para pemimpin di Hulu sungai sekilas mirip dengan gelar-gelar di Jawa, khususnya untuk daerah banten dan cerebon, yang menggunakan akhiran A, berbeda dengan daerah mataraman yang menggunakan gelar O.

Tapi ini bukan berarti beliau berasal dari Jawa, gelar-gelar yang berpengaruh bahasa Sansekerta tersebut umum dipakai di seluruh Kalimantan.

Kita jangan lupa bahwa kerajaan tertua di Nusantara berada di Kalimantan yaitu Kerajaan Kutai yang mana mereka menggunakan bahasa sansekerta, juga Kerajaan Dipa dan Kerajaan Daha di Hulu Sungai juga dipengaruh sansekerta, Budaya Jawa dan budaya Hindu Budha.

Pembangunan Benteng dan pemilihan lokasi benteng di Peniti Biru memperlihatkan kemampuan militer yang mumpuni, baik dari segi dana, arsitektur, dan praktek Militer Hulu Sungai.

Pihak belanda dengan detail mencoba menggambarkan lokasi dan struktur Benteng, tidak mudah dan tidak murah untuk membangun sebuah benteng, jelas disini orang Hulu Sungai mempunyai pengetahuan, budaya dan tradisi membangun benteng sebagai situs pertahanan.

Jika kita perhatikan, untuk hari ini pun mungkin tetap tidak mudah membangun struktur benteng seperti itu.

Keberanian dan kemampuan melawan pasukan Belanda dari orang Hulu Sungai juga memperlihatkan keahlian diplomasi dan kemampuan dan karakter militer.

Seperti dijelaskan dalam cerita pertempuran peniti biru ini bahwa ada lobi-lobi sebelum pertempuran terjadi, meski kemudian tantangan pertempuran tidak terhindarkan setelah tantangan langsung dilakukan oleh Kiai karta Negara terhadap Belanda.

Kiai Karta Negara mengirimkan surat tantangan bertempur kepada Belanda, memperlihatkan keberanian dan kepercayaan diri yang besar, Belanda mengakui mereka cukup kewalahan menghadapi pertempuran dan butuh dua hari dua malam untuk menaklukannya.

Pasukan Kiai Karta Negara rupanya mempunyai senjata yang seimbang dengan pasukan belanda, baik senjata api dan meriam, hanya saja mungkin kesabaran dan pengalaman panjang dari Kapten Karel van der Heyden dalam banyak perang sebelumnya.

Dan taktik yang tak terduga yang mereka lakukan, seperti membakar lahan sekitar benteng dan memutus logistik pasukan kiai Karta Negara, yang membuat belanda mampu menghancurkan psikologis musuhnya dan memenangkan pertempuran.

Ada beberapa kubu yang terlibat yaitu Kubu Belanda, kubu Pangeran Hidayat, dan Kubu Bangsawan Hulu Sungai yang memihak Belanda, dan Kubu Bangsawan Hulu Sungai yang memihak Pangeran Hidayat.

Dalam gejolak perang dan kekacauan saat itu memang tidak mudah untuk menentukan arah, kiranya kita hari ini tidak bisa menjustifikasi benar atau salah pilihan politik mereka saat itu.

Kekacauan perang selama bertahun-tahun telah mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan Hulu Sungai, perang menghacurkan tatanan keluarga dalam perpecahan politik.

Beberapa laporan lain memperlihatkan banyaknya perampokan dan pemerasan kepada penduduk Hulu Sungai yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu membuat prustasi orang hulu sungai yang merasa tidak terkait dengan kepentingan politik di Banjarmasin.

Penulis pun sebagai orang Hulu Sungai menghormati setiap pilihan para pemimpin saat itu.

Saat itu pada bulan Oktober 1860.
Seorang Kiay Karta Negara, seorang pendukung setia Hidayat, memimpin komplotan yang terdiri dari 200 orang, setengah dari mereka bersenjatakan senjata api, menyerbu Laboean Mas, memeras uang dan kebutuhan hidup dari warga kampung yang lemah, dan juga mengambil banyak tawanan.

Upaya telah dilakukan untuk membujuk Karta Negara agar menyerah, namun di tempat kepala kampung Banua Kapayang yang setia kepada kami telah berkirim surat kepadanya, tapi Karta Negara tidak muncul.

Jauh dari menunjukkan kecenderungan untuk mengangkat pedang menyerah, Kiai karta negara mungkin berpikir dia
merasa aman dalam perlindungan bentengnya, dan, karena terlalu percaya diri dengan tindakan perusakannya yang sampai sekarang dia tidak pernah dihukum, dia segera menantang pemerintah untuk menyerangnya.

Salah satu bupati kami menerima surat yang isinya sebagai berikut:

“Tjap dari Kiay Karta Negara.
“Hadji Mohammad Arsid! Bawa orang Belanda ke goenoeng Karta Niti Biroe pada Senin pagi; Aku akan menunggu mereka di sana. Jika Anda tidak membawanya, saya akan datang dan mengunjungi Anda di distrik Anda.

Jadilah itu—1278.”

Van der Heyden dengan senang hati menerima tantangan itu dan memutuskan untuk menyerang sarang predator tersebut secepat dan sekuat mungkin.

Banyaknya prajurit (70 orang) yang dirawat di RS lapangan membuat dirinya tidak bisa melakukan perjalanan lebih awal.

Namun, ketika keadaan kesehatan agak membaik, ia mengirimkan perintah kepada Kapten Hamakers untuk melakukan pasukan ke-27 dari Pantai Hambawang sepanjang Sungai Gatal dan lebih jauh ke timur melewati Sungai Selingam dan panjang seringan ke gunung Peniti Biru dengan membawa Van Puffelen dan 35 bayonet.

Sementara ia sendiri dengan pasukan Letnan Satu van Haaften, petugas kesehatan kelas 3 de Jongh, 70 bayonet, 1 howitzer dan 1 mortir serta sejumlah kuli yang diperlukan, mundur dari Barabei pada tanggal tersebut.

Sebagian melalui darat dan sebagian lagi dengan kano ia mencapai hutan belantara Hapulang, yang medannya menjadi lebih tinggi dan terus menanjak hingga pegunungan Lok Laga, Ambilik, dan Batoe Tanga.

Di titik yang paling tinggi, dengan tembok yang hampir tegak lurus, menonjol sekitar 800 kaki di atas bukit dan bebatuan di sekitarnya, Karta Negara telah membangun bentengnya, dan dari jarak yang sangat jauh, tiang-tiang itu terdengar seruan perang musuh yang menantang.

Medan bergelombang yang harus diperpanjang hingga Penitie Biroe ditumbuhi alang-alang yang tinggi.

Ketika mereka berada 500 yard dari benteng, musuh melepaskan tembakan; Setelah mereka mengambil posisi di puncak bukit, dilakukan pelemparan granat sebanyak tiga kali.

Ini adalah tanda bagi Hamakers, yang mendekat tanpa disadari dari sisi lain, untuk mendaki Penitie Biroe. Di lereng ia menemukan dua bagian depan, terdiri dari tembok pembatas lurus, yang menutupi jalan setapak, namun segera ditinggalkan.

Di belakangnya terlihat sebuah tikungan besar. Hamakers menghancurkan tembok pembatas sebanyak mungkin sampai sinyal badai (tembakan) memanggilnya ke benteng utama.

Van der Heyden telah mengirimkan tiga unit di bawah Letnan Satu Van Haaften, Sersan Van den Bussche dan Sersan Van Blücher untuk mengepung kamp dan diberi sinyal untuk menyerbu pada waktu yang sama dengan Hamakers.

Karena Penitie Biroe dikelilingi jurang yang dalam dan hanya bisa didekati dari satu sisi melalui jalur pegunungan yang terjal, maka dibutuhkan banyak tenaga dan tenaga untuk mencapai puncaknya.

Namun saat puncak didaki, sinyal badai (tembakan) terdengar. Upaya dilakukan dari berbagai sisi untuk mencari celah untuk menembus lengkungan yang dikelilingi tembok pembatas setinggi 4 hasta.

Namun, sia-sia saja. Kecuali sejumlah luka yang disebabkan oleh lemparan ranjau bambu , Hamakers dan lima bawahannya terluka oleh peluru dan kopral Uitenbogaerd terbunuh.

Tembakan persiapan dengan mortir tidak berpengaruh, kekuatan lapis baja tidak efektif, dan penyerbuan juga gagal. mereka menyeret mortir ke atas lereng gunung, kini mereka membawa tangga badai; De Jongh juga mendaki ketinggian tersebut, berjalan ke puncak, dan dia segera terlihat membawa bantuan kepada yang terluka dan membawa seorang flanker keluar dari api.

Di bawah perlindungan para skirmisher (Pasukan terdepan), yang menjaga tembok pembatas di sisi itu tetap bersih, pasukan artileri Cornelis, dengan granat di tangannya dan dibantu oleh rekan-rekan Boernya, menaiki tangga badai, mencari dan menemukan celah di mana proyektil bisa jatuh.

Lalu menyalakan tabung dan melemparkan granat ke dalam benteng. Pada saat ledakan terjadi, serangan baru dilakukan, tetapi di mana pun pasukan skirmisher memanjat pagar kayu palisade, pasukan bertahan juga menembak dan memukul mundur mereka.

Dengan ketenangan yang sama Cornelis melemparkan dua granat lagi ke dalam, dengan keberanian yang sama dua serangan lagi dilakukan, tetapi juga dengan ketekunan yang sama pertahanan tetap dipertahankan.

Van der Heyden sekarang memberi perintah untuk menutup benteng dan membakar pagar kayu runcing jika memungkinkan.

Bertempat di balik semak-semak pohon, para skirmisher melindungi para pekerja yang membawa alang-alang dalam jumlah besar; para kuli dan orang rantai (narapidana yang diperkejakan) bersaing dengan tentara untuk memotong bahan bakar dan menyalakan api.

Namun, kelembapan kayu mencegah pembakaran dalam waktu lama; Selain itu, tembok pembatasnya terdiri dari tiga baris palisade sejajar yang dipasang di tanah dengan jarak setengah hasta.

Walaupun terik matahari, yang sudah begitu menyiksa saat pendakian Penitie Biroe, kini diperparah oleh kobaran api, hanya dengan susah payah air minum untuk penyegaran dapat diperoleh; Air diambil dalam jumlah kecil dari sebuah tiang jauh dari sungai yang hampir kering dan dialirkan dengan susah payah.

Tidak mungkin menyatukan kolom di bagian atas karena adanya howitzer; ini membuat layanan menjadi jauh lebih sulit. Menjelang malam, rantai pos diperkuat; masing-masing penjaga bercokol sebaik mungkin di balik dahan, pohon, atau hutan alang panjang.

Karena perbekalan untuk satu hari saja telah dibawa, sang komandan telah memanggil perbekalan baru dari Barabai ketika dia memutuskan untuk membangun benteng.

Tidak seluruh pasukan Kiai Karta Negara berada di benteng Peniti Biru. Kebakaran yang terjadi jauh sekali dan berlanjut ke arah bivak tidak dapat dikaitkan dengan kebetulan.

Saat hari mulai gelap, api terlihat berkedip-kedip di kejauhan di berbagai titik dan memberikan sinyal yang hanya bisa dipahami oleh para pasukan di dalam Benteng.

Oleh karena itu, tidur tidak mungkin dilakukan, baik di bivak di kaki gunung, maupun di puncak, tempat api unggun dinyalakan dan baku tembak dilakukan setiap saat.

Keesokan paginya, suara keras muncul dari bagian depan, yang sebagian telah dihancurkan oleh Hamakers; musuh yang tinggal di sekitar Peniti Biru telah menduduki kembali titik-titik tersebut pada malam hari dan mencoba memancing pasukan ke sana.

Tembakannya, yang tidak berbahaya pada jarak itu, bahkan tidak dibalas; tetapi van der Heyden sekarang menganggap perlu untuk meminta bala bantuan dari Amuntai, karena akan sulit mempertahankan posisinya jika musuh muncul dalam jumlah yang lebih besar di luar bala bantuan.

Tiga orang musuh mencoba menerobos rantai tiang dengan klewang di tangan; Namun mereka ditembak. Salah satu dari mereka, meskipun terluka, akan lolos jika saja seorang orang rantai tidak menikamnya dengan tombaknya.

Beberapa sukarelawan di bawah Sersan Van den Bussche kembali melakukan upaya sia-sia untuk membuat celah di pagar kayu palisade di bawah perlindungan para penembak; garnisun menerima mereka dengan tembakan keras, flanker van der Keur kehilangan nyawanya dan empat lainnya terluka.

Van der Heyden sekarang membangun tumpukan kayu pemakaman dalam skala yang lebih besar; Namun, karena dia lebih suka menangkap musuh hidup-hidup, dia meminta mereka untuk meletakkan senjata dan tinggalkan membungkuk satu per satu.
Panggilannya dibalas dengan kata-kata makian dan tembakan.

Selain kebakaran di palisade luar yang terus dilakukan sejak hari sebelumnya, sejumlah besar api yang menyala kini dilemparkan ke dalam dengan kait api besar; orang-orang dalam benteng tidak berusaha untuk membuang bahan bakar atau memadamkan benda-benda yang terbakar.

Namun, panasnya meningkat, dan akhirnya menjadi tak tertahankan di dalam benteng; melalui hangusnya palisade, betapapun lambatnya, sebuah pembukaan akhirnya harus dilakukan.

Pembagian air minum yang kini harus diambil setiap 11 jam, dipercayakan kepada de Jongh. Meskipun terluka parah di bivak, Hamakers telah menemukan sejumlah pria bersenjata di pegunungan, yang, berdasarkan sinyal dari benteng, sedang berkumpul ke arah tertentu.

Dia segera menyampaikan hal ini kepada komandan kolom, yang baru saja kembali ke bivak ketika detasemen musuh mulai menembakinya dari jarak yang lebih dekat. Namun, tembakan meriam yang tepat sasaran segera mengakhiri serangan tersebut.

Malam tiba lagi; para pengepung secara bertahap menjadi kelelahan karena kelelahan, dan situasi garnisun menjadi semakin genting setiap saat.

Sesekali muncul penduduk asli yang merangkak keluar dari benteng dan mencari perlindungan dalam pelarian; Sesekali terdengar suara tembakan dari barisan pagar yang menumbangkan buronan tersebut.

Malam itu api membakar setengah ketiga lapis palisade; ini sudah cukup untuk masuk keesokan harinya.

Namun musuh tidak menunggu fajar. Dengan amarah yang putus asa mereka menghancurkan senjata mereka; mereka melemparkan potongan-potongan itu ke arah tentara, lalu melompat keluar dan mencoba menyelamatkan diri dengan berlari.

Tujuh belas orang tewas di dekat benteng; Karta Negara, meski terluka, berhasil lolos bersama 6 pengikutnya; enam orang lainnya tetap berada di dalam benteng dan ditangkap; dua dari mereka yang kemudian mencoba melarikan diri tewas.

Di antara korban tewas adalah Tumenggung Raksa Widaja saudara laki-laki Karta Negara, dan dua Kepala Suku (pemimpin) lainnya. Sejumlah senjata api dan senjata tajam juga jatuh ke tangan kami.

Ketika seseorang melihat koridor tertutup dari kayu tebal, tempat musuh bersembunyi di bagian dalam, tidak mengherankan jika granat tidak berpengaruh.

Pekerjaan penghancuran segera dimulai; sarana yang digunakan pasukan untuk menguasai benteng kini kembali digunakan untuk menghancurkan benteng.

Tak lama kemudian kobaran api membesar dan melahap sisa-sisa terakhir sarang penjarahan Karta Negara.

Dalam perjalanan pulang ke Barabei, hari-hari kelelahan dan kesulitan terlupakan. Cornelis telah diangkat menjadi kopral di medan perang; setiap orang telah melakukan tugasnya; orang-orang bersemangat; bahkan mereka yang terluka, yang dirawat dengan sebaik-baiknya oleh perawatan De Jongh, tidak mengeluarkan tangisan yang menyakitkan.

Penangkapan Penitoe Biroe segera diikuti dengan penaklukan saudara-saudara Tumenggung Dessa Raksa.

Semangat dan kebijakan yang ditunjukkan van der Heyden sebagai panglima dan pengendali militer membuahkan hasil terbaik.

Dalam beberapa hari berikutnya banyak para pemimpin pemberotak yang kemudian menyerahkan diri, namun Kiai karta Negara sendiri tetap melakukan perlawanan di daerah pegunungan meratus.

Selanjutnya pada bulan Januari 1861 sekali lagi bekas benteng peniti biru diserang oleh pasukan dari Barabai untuk menghancurkan pasukan kiai Karta Negara yang kembali berkumpul disana. (JRnews.co.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini