Melihat dari Dekat Rumah Pengasingan Tokoh Pejuang Kemerdekaan di Banda Neira

0
28
Rumah pengasingan Moh. Hatta di Banda Neira (Net)
Rumah pengasingan Moh. Hatta di Banda Neira (Net)

JAKARTA, JRnews.co.id – Pemerintah Belanda memilih Banda Neira menjadi salah satu tempat pengasingan pejuang-pejuang Indonesia.

Banda Neira dipilih karena jauh dari pulau Jawa, sehingga sulit bagi pejuang berhubungan dengan lainnya.

Di Banda Neira ini pernah diasingkan tokoh-tokoh pejuang perintis kemerdekaan Indonesia.

Seperti Moh Hatta, Sutan Sjahrir, Dr Cipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri.

Banda Neira berada di Pulau Neira, bagian dari gugusan Kepulauan Banda, Provinsi Maluku.

Sebelum jadi kota pengasingan, Banda Neira dikenal sebagai lokasi pencarian rempah-rempah.

Banyak rempah dihasilkan dari daerah ini, seperti pala, cengkih dan banyak lagi.

Hatta dan Sjahrir diasingkan di Banda Neira selama enam tahun, yakni 1936-1942.

Di Banda Neira, kedua tokoh ini menempati rumah yang berbeda-beda.

Sjahrir menempati rumah bergaya Hindia di jalan Said Tjong Baadillah, kelurahan Nusantara.

Dulunya rumah ini milik perkebunan pala yang sudah lama kosong.

Rumah ini berada di lahan 385 meter persegi dan bangunan 314 meter persegi.

Rumah terdiri atas bangunan utama dengan lima ruangan dan bangunan belakang.

Tiga ruangan depan sekarang sudah berfungsi sebagai museum.

Pengunjung bisa melihat koleksi foto Sjahrir sejak dari muda sampai dewasa.

Ada pula koleksi barang yang dulu digunakannya, seperti gramofon, mesin ketik, dan meja kerja.

Di ruangan ini terpajang mesin tik yang dulu digunakan Hatta untuk menuangkan ide-idenya.

Rumah pengasingan Moh. Hatta berada di jalan Nusantara, dekat utan Banda Neira.

Sampai sekarang rumah ini masih terawat dengan baik.

Sebelum tinggal di rumah sendiri, Sjahrir pernah tinggal di rumah ini juga.

Rumah ini terdiri atas 3 bangunan. Bangunan depan atau utama menjadi tempat tinggal Moh. Hatta.

Pengunjung bisa melihat koleksi peninggalan Moh. Hatta.

Mulai dari lemari, beberapa baju, catatan-catatan penting, dan peralatan makan.

Di sebelah kanan ruangan terdapat ruang kerja. Di sini masih tersimpan mesin tik milik Hatta.

Bangunan kedua terdiri atas enam ruangan.

Lima di antaranya dijadikan tempat mengajar anak-anak Banda, termasuk sejarawan Des Alwi.

Di tempat ini pengunjung bisa melihat replika papan tulis dan bangku yang digunakan untuk mengajar.

Sementara bangunan ketiga lokasinya sedikit terpisah, dibatasi taman keci.

Di situlah tempat tinggal Sjahrir sebelum pindah rumah. (JRnews.co.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini