Menguak Kisah Kampung Alam Roh: Antara Mistis dan Strategi Perjuangan Tentara ALRI

0
38
Tugu Alam Roh di Desa Paku Alam, Kabupaten Banjar. (Net)
Tugu Alam Roh di Desa Paku Alam, Kabupaten Banjar. (Net)

JRnews.co.id – Mendengar nama Alam Roh konotasi orang pasti akan mengaitkannya dengan hal-hal mistis. Di Kalimantan Selatan, nama Alam Roh ini pun sangat terkenal.

Bahkan di era Gubernur H Sahbirin Noor nama ini diabadikan untuk sejumlah lokasi wisata andalan seperti di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kabupaten Banjar, dan penginapan di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Namun tahukah, nama samaran sebuah markas besar di daerah sektor selatan era pemerintahan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Kalimantan Selatan, saat revolusi fisik berlangsung tahun 1949.

Berdirinya markas Alam Roh ini merupakan gerakan kontra intelijen yang dimainkan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Kalimantan dalam menghadapi Territorial Commandant Voor Zuider en Oosterafdeling van Borneo guna memblokade Kota Banjarmasin, ketika Belanda lewat pemerintahan sipil NICA dan serdadunya, KNIL ingin kembali bercokol.

Revolusi fisik di Kalsel sebagai jawaban atas kedatangan pasukan sekutu yang dibonceng NICA-Belanda, karena ingin berkuasa lagi. Hal ini, respons atas perjanjian Linggarjati pada 11-15 November 1946 menyatakan pengakuan de facto Belanda terhadap kedaulatan Republik Indonesia (RI) hanya atas Jawa, Madura dan Sumatera.

Menggapa dimanakan Alam Roh? Ya, karena lokasinya memang sangat tersembunyi, tertutup bahkan jauh dari jalur transportasi baik darat maupun sungai.

Hal ini menyebabkan gerakan sekaligus markas ini tidak dapat ditembus oleh pemerintahan Belanda.

Bahkan, ada cerita mistis karena karomah seorang ulama Tanah Banjar yang melindungi kawasan para pejuang juga mengemuka.

Belanda yang awalnya bersikeras, ternyata akhirnya meneken perundingan gencatan senjata antara pihak Gubernur Tentara ALRI Divisi IV, Letkol Hassan Basry dengan NICA pada 2 September 1949 di Desa Munggu Raya, Kandangan.

Dengan adanya perundingan ini, maka gerakan yang dilancarkan dari markas Alam Roh ini pun selesai.

Peneliti dan akademisi sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, mengatakan kawasan situs Alam Roh kini dikenal dengan Monumen ALRI Divisi IV, terletak di Desa Pakualam RT 2, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, beberapa ratus meter dari perkampungan warga.

“Dari kepercayaan masyarakat tempat tersebut disebut Alam Roh, dikarenakan pasukan Belanda maupun mata-mata Belanda tidak bisa melihat tempat tersebut. Bahkan, ceritanya wilayah Alam Roh dipasangi beberapa azimat, dan doa dari ulama-ulama Martapura,” beber Mansyur dilansir jejakrekam.com beberapa waktu yang lalu.

Magister sejarah lulusan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengatakan jika pasukan Belanda atau pengkhianat memasuki Alam Roh, akan dipastikan tewas tanpa diketahui siapa pembunuhnya.

Dari hasil riset Mansyur, awal berdirinya Alam Roh bermodalkan senjata yang sangat minim sekali, yakni parang bungkul (parang besar), sedangkan senjata api, diambil dari pekerja-pekerja perkebunan Belanda.

“Secara perlahan, akhirnya terkumpul sekitar 30 buah senjata. Setelah, Alam Roh Alam Roh meminta bantuan kepada Hulu Sungai untuk segera mengirimkan pejuang pilihan, guna menggempur Kota Banjarmasin,” beber Mansyur.

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan ini mengungkapkan, objek-objek militer yang jadi sasaran penyerang para pejuang Banjar Alam Roh.

Antara lain Rumah Residen A.G. Deelman, Asrama KL 9, Asrama Tatas (sekarang Masjid Raya Sabilal Muhtadin), pos polisi di Ujung Murung, Troepen Commando (sekarang Kodamar), Kompleks MP (Militaire Politie) di Teluk Tiram, Kompi X di Kelayan, Kompleks MP di Sungai Acan (Pekapuran) dan Asrama di Pacinan (Kompleks bekas P dan K).

“Alam Roh dalam perjuangannya tidak hanya berfokus kepada masalah penyerangan yang sifatnya militer, juga upaya menyusun kekuatan politik, sosial dan ekonomi,” beber Sammy, sapaan akrab dosen muda ini.

Menurut Mansyur, dalam bidang politik Alam Roh berupaya melumpuhkan organisasi Belanda ke dalam, dan menjalankan persoalan Kalimantan Selatan menjadi masalah nasional dan internasional.

“Makanya, dalam mendukung upaya itu, disusun struktur Pemerintahan Alam Roh, dengan wilayah dikurangi Kandangan, yang termasuk daerah besar utara,” beber Mansyur.

Struktur wali daerah Banjar M Hanafiah dimasukkan ke dalam perjuangan dan menetap di markas Alam Roh, maka sejak itu dijalankan Pemerintahan Sipil.

Guna mengisi kekosongan pangreh praja ini Belanda mendatangkan Kiai Besar Ramlan dan Kiai dari Pelaihari. Setibanya di Banjarmasin, sebelum sampai di rumah masing-masing, keduanya telah diciduk dan dibawa ke asrama Alam Roh. (JRnews.co.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini