Oleh: Dr. Ir. Subhan Syarief

BANJARMASIN, JR news.co.id – Perkembangan teknologi yang semakin maju, bahkan canggih dengan salah satunya melalui munculnya apa yang diistilahkan era digitalisasi, telah membawa perubahan besar dalam berbagai aktivitas kehidupan di dunia, termasuk sektor industri, yang salah satunya adalah industri terkait bisnis jasa konstruksi.
Di era lampau, dalam melaksanakan kegiatan jasa konstruksi membutuhkan berbagai sumber daya manusia dengan sokongan peralatan/teknologi terbatas, kemudian waktu kerja yang relatif panjang. Semua telah berubah.
Saat ini hal tersebut sudah tak relevan lagi, waktu bisa dipercepat, mutu produksi bisa lebih terjamin kualitas dan kuantitas nya dengan dukungan teknologi dan pekerja yang presisi. Menjadi bisa serba cepat, minim tenaga kerja dan bahkan biaya bisa lebih efisien.
Era baru, era revolusi industri yang hadir dan semakin berkembang telah melahirkan berbagai terobosan dan bahkan kejutan, salah satunya dengan kehadiran teknologi robotik terintegrasi penggunaan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan) dalam berbagai aktivitas industri, termasuk di sektor industri konstruksi.
Ya, ujungnya model kerja era lama pun sudah di anggap ketinggalan zaman dan tak efisien efektif lagi.
Penggunaan teknologi Robotik dan AI dalam bidang industri konstruksi mau tak mau terpaksa akan di gunakan, tak mampu menguasai hal tersebut maka akan tersisih kan dalam persaingan global.
Pengunaan teknologi robotik dan kecerdasan buatan dalam industri jasa konstruksi memunculkan peluang sekaligus tantangan yang signifikan.
Satu sisi penerapan teknologi ini dapat memberikan efisiensi, akurasi, standarisasi dan keamanan yang lebih tinggi pada setiap produk konstruksi.
Akan tapi di sisi lain, ada hambatan dalam hal biaya investasi, adaptasi tenaga kerja, dan utamanya tantangan regulasi yang masih belum memadai untuk mengatur mekanisme penerapan dalam industri konstruksi.
Tak Terhindarkan
Apabila bicara hal prospek usaha jasa konstruksi terkait pemanfaatan teknologi robotik dan AI ke depan dasarnya tak mungkin bisa di hindari lagi oleh dunia konstruksi Indonesia, hanya masalah waktu.
Sejatinya ada hal mendasar yang mau tak mau ‘memaksa’ jasa konstruksi negeri untuk mengunakan hal tersebut; tuntutan hal produk konstruksi yang berkualitas, terstandardisasi dan efisien efektif akan menjadi sebuah keharusan, tak bisa memenuhi kriteria tersebut maka akan kalah dalam persaingan.
Memang dalam praktek yang telah mulai diterapkan oleh negara maju, seperti China, Jepang, Eropa, Amerika, dllnya pengunaan teknologi robotik dan kecerdasan buatan ini menghasilkan antara lain efisiensi biaya, waktu dan mutu yang lebih terstandarisasi dalam proses produk usaha jasa Konstruksi.
Terapan sejak dari tahapan perencanaan, desain, manajemen dan pengawasan, sampai dengan pelaksanaan dan uji coba pengoperasian dapat dilakukan.
Pemanfaatan model digitalisasi tersebut pada tahapan perencanaan dan desain makin berkembang ; teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat di fungsi kan untuk membantu mengoptimalkan perencanaan proyek dengan menganalisis berbagai faktor seperti tata ruang, pemilihan bahan, model fasade, pemilihan warna, bentuk dan tata letak bangunan.
Dari hal ini memungkinkan produk desain yang lebih menarik, efisien dan ramah lingkungan.
Ya, perencanaan, yang lebih akurat melalui teknologi algoritma kecerdasan buatan (AI) dalam software konstruksi memungkinkan analisis data yang lebih cepat dan valid, termasuk dalam perencanaan material dan waktu pengerjaan.
Hal ini meminimalkan risiko kesalahan yang mungkin terjadi akibat perencanaan yang kurang tepat.
Tepat Waktu dan Anggaran
Dalam kegiatan manajemen proyek ataupun pengawasan konstruksi, teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan untuk memantau dan mengelola proyek secara real-time, termasuk perencanaan jadwal dan alokasi sumber daya, pengunaan perangkat teknologi robotik drone, dllnya dapat membantu memastikan bahwa proyek selesai tepat waktu dan sesuai alokasi anggaran yang dicanangkan.
Pengendalian kualitas pun bisa dilakukan menggunakan metode pemanfaatan teknologi citra dan sensor.
Kecerdasan buatan (AI) ini dapat mengidentifikasi cacat atau masalah potensial selama proses konstruksi, sehingga meningkatkan standar kualitas produk konstruksi.
Bahkan dalam hal aspek keselamatan Kerja, kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan keselamatan di lokasi kegiatan proyek konstruksi.
Pemantauan dilakukan melalui berbagai sisi dan dari jauh yang dapat di akses berbagai pihak. Segala perilaku pekerja dan deteksi potensi bahaya bisa terkontrol dengan baik sehingga dapat mengurangi risiko kecelakaan.
Dari segi kelayakan proyek pun melalui proses analisis data, teknologi kecerdasan buatan (AI) mampu menganalisis data besar untuk memberikan wawasan tentang tren pasar, biaya, dan efisiensi, yang sangat penting untuk pengambilan keputusan yang lebih terukur dan baik, sehingga sejak awal kelayakan proyek konstruksi pun bisa di tentukan.
Penggunaan robot dalam pelaksanaan proyek konstruksi sangat membantu, mulai dari pekerjaan terkait pondasi ; seperti penggalian tanah, pemancangan, perakitan dan pemasangan besi dan pengecoran untuk struktur pondasi; kemudian pemasangan lantai, dinding dan atap pabrikasi, bahkan hingga pekerjaan finishing seperti pemasangan lantai keramik, pengecatan dllnya dapat dilakukan lebih cepat dengan presisi tinggi.
Meminimalisir Kesalahan
Ya, penggunaan robot yang terintegrasi pada sistem instruksi kerja konstruksi berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat melakukan tugas berulang, terstandardisasi dengan tingkat kesalahan yang minimal, dan tentunya juga menghemat waktu sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja.
Dari sudut keamanan lingkungan kerja dan keselamatan saat bekerja juga lebih terjamin, apalagi di lokasi proyek konstruksi yang memiliki risiko tinggi, tak perlu lagi dilakukan oleh manusia.
Dengan memanfaatan robot dan panduan kerja yang sudah terprogram tentu dapat mengurangi keterlibatan manusia dalam tugas kerja yang rentan dengan bahaya.
Teknologi sensor AI yang saling terintegrasi dapat membantu mendeteksi potensi kecelakaan dan memperingatkan pekerja, meningkatkan keselamatan kerja secara keseluruhan.
Pemanfaatan Teknologi robotik dan kecerdasan buatan (AI) dalam industri konstruksi dalam jangka panjang akan menghemat biaya, karena dapat mengurangi biaya operasional, meskipun investasi awal akan tinggi.
Sebagai contoh, pengunaan robot yang dimanfaatkan dalam pemeliharaan gedung sehingga dapat memperpanjang umur pengunaan gedung tanpa biaya renovasi yang besar.
Atau bisa juga ketika di gunakan pada proyek perumahan/apartemen berkonsep protipe dalam sekala besar; dalam hal ini pembuatan material bangunan secara pabrikan dengan sistem moduler yang sudah disesuaikan dengan perencanaan dan proses pemasangannya; tentu ini sangat menghemat biaya pembangunan nya.
Tantangan SDM
Tentu untuk diterapkan di dunia jasa konstruksi negeri tidak mudah, ada kendala atau tantangan yang perlu untuk dicermati dan disikapi terlebih dahulu sebelum teknologi robotik dan kecerdasan buatan (AI) ini di terapkan di Indonesia.
Tantangan atau tepatnya kendala utama yang paling menimbulkan masalah adalah dari sektor SDM atau tenaga kerja sektor konstruksi.
Penggantian pekerjaan yang biasanya dilakukan manusia dengan robot dapat menimbulkan ketakutan akan pengurangan lapangan kerja.
Padahal kita tahu bahwa daya serap sektor konstruksi terhadap SDM terbanyak adalah pada level tenaga kerja terampil/tukang dan buruh bangunan.
Tentu, apabila pekerja konstruksi ini digantikan dengan robotik tak terbayangkan akan begitu banyak pengangguran yang terjadi, bahkan bila tak hati-hati bisa saja menganggu stabilitas sosial politik dan ekonomi di Indonesia.
Sisi lainnya, biaya Investasi yang tinggi dalam mengimplementasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi robotic juga menjadi hambatan, apalagi untuk bisnis jasa konstruksi skala kecil dan menengah.
Ya, tentu juga biaya pengadaan alat, pelatihan tenaga kerja, dan pemeliharaan perangkat membutuhkan investasi yang tak sedikit.
Masalah lain yang juga penting adalah terkait dengan keterbatasan teknologi dan pengamanan siber, ini karena teknologi robotik dan kecerdasan buatan (AI) belum sempurna dan masih memiliki keterbatasan, apalagi dalam sektor industri konstruksi yang umumnya lokasi pekerjaan konstruksi tak terstruktur dengan baik dan selalu dinamis/berpindah.
Kondisi ini menyebabkan kerentanan serangan siber terhadap proses pelaksanaan proyek konstruksi.
Kendala atau tantangan yang juga penting adalah pemenuhan atau adanya regulasi yang komprehensif; terutama regulasi yang jelas mengenai keamanan, hak pekerja, dan standar operasional pemanfaatan atau penggunaan teknologi robotic dan kecerdasan buatan dalam industri konstruksi tidak menimbulkan permasalahan baru.
Tentu juga hal perlindungan hukum bila terjadi kesalahan mesin atau malfungsi menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Ya, akhirnya memang era robotic dan kecerdasan buatan (AI) disamping memberikan prospek besar dalam bisnis usaha jasa konstruksi, mulai dari efisiensi waktu, peningkatan keamanan, hingga pengurangan biaya operasional dalam jangka panjang.
Tapi perlu memperhatikan hal yang paling utama, berbagai hal terkait permasalahan atau kendala yang perlu terlebih dahulu diatasi agar tak memunculkan polemik dan kontraproduktif bagi pengembangan usaha jasa konstruksi, terkhusus bagi SDM konstruksi; seperti biaya investasi, resistensi tenaga kerja, dan kebutuhan regulasi yang tepat.
Secara mendasar sebelum iklim dunia konstruksi Indonesia mencapai keseimbangan antara teknologi dan kemampuan penguasaan nya, baik oleh perusahaan ataupun oleh tenaga kerja manusia.
Sebaiknya semua pihak dengan dipelopori oleh Pemerintah perlu mengambil langkah proaktif dalam pengembangan kemampuan, terutama untuk kesiapan pekerja konstruksi dalam memanfaatkan pengunaan teknologi robotik serta kecerdasan buatan (AI) di industri konstruksi.
Dengan pemahaman mendalam terhadap peluang dan hambatan ini, diharapkan kedepannya perusahaan jasa konstruksi dan sdm konstruksi dapat memaksimalkan potensi dari era robotic dan kecerdasan buatan (AI) dalam menciptakan bisnis jasa konstruksi yang lebih efisien, efektif dan berkelanjutan.
(Subhan Syarief – Oktober 2024).
